Banyak orang mencari kebahagiaan atau sukacita selalu melalui harta, jabatan, atau prestasi. Namun, Alkitab mengajarkan bahwa sukacita terbesar yang Allah berikan pertama kali kepada manusia bukanlah benda, melainkan Keluarga. Keluarga adalah ide asli dari Allah dan merupakan lembaga pertama yang Ia bentuk dalam rencana penciptaan-Nya. Dalam menciptakan keluarga dapat dipahami bahwa ini adalah bagian dari rancangan Allah, dimana manusia diciptakan untuk saling melengkapi, mencerminkan kehendak Tuhan, dan bersama-sama melayani Dia. Bahkan di dalam keluargalah iman Kristen pertama kali dibentuk. Sejak dini, anak-anak belajar mengenal kasih Allah melalui pengajaran Alkitab dan teladan orang tua, sehingga mereka bisa membagikan kasih tersebut kepada dunia suatu saat nanti. Allah menciptakan keluarga untuk saling mendukung, karena dalam keluarga haruslah hidup dua orang yang saling melengkapi, sama seperti Adam yang merasa hampa sendirian di Taman Eden, Allah memahami bahwa Adam pasti ingin seperti makhluk lain yang memiliki pasangan, karena itu Allah menghadirkan seorang perempuan atau Hawa yang merupakan penolong yang sepadan dengan Adam (Kejadian 2:18). Hawa dihadirkan bukan hanya sebagai pendamping, tetapi sebagai penolong untuk berbagi hidup dalam segala hal, mulai dari rutinitas harian hingga merayakan momen spesial bersama.
Keluarga yang kuat tidak dibangun di atas kesempurnaan manusia, melainkan di atas kasih Allah yang sempurna. Oleh karena itu, dalam keluarga Kristen tidak boleh ada sikap saling menjatuhkan, sebaliknya harus dibangun atas dasar saling percaya dan saling memperhatikan satu dengan yang lain. Sebab tujuan Allah menciptakan keluarga untuk menyatakan kasih-Nya. Dengan demikian sukacita orang percaya akan semakin kuat ketika dalam keluarga saling mengasihi, saling memperhatikan, dan saling melengkapi satu dengan yang lain.